Posted by Unknown at 4:46 AM
Read our previous post
Arsenik sehari-hari
Arsenik adalah suatu unsur kimia
metaloid (semilogam) golongan VA, berwujud bubuk putih, tanpa warna dan
bau (karena itulah arsen sangat dikenal dalam urusan racun-meracun
makanan!). Nama arsenik sendiri pertama kali berasal dari bahasa Persia zarnig dan bahasa Yunani arsenikon
yang artinya kuning. Arsenik dalam kehidupan sehari-hari (di luar
racun-meracun) digunakan untuk bahan pestisida di buah-buahan. Galium
arsenid dapat dipakai sebagai bahan semikonduktor rangkaian listrik.
Dalam pengobatan, arsen juga mendapat tempat khusus. Di zaman dahulu
arsenik pernah digunakan sebagai obat sifilis, yaitu Salvarsan. Sampai
sekarang arsenik masih menjadi salah satu alternatif pengobatan
tripanosomiasis Afrika (dalam bentuk melarsoprol). Arsenik juga dipakai
dalam industri pewarna dan cat.
Arsenik di air minum
Dalam kehidupan sehari-hari, makanan
kita pun mungkin mengandung arsenik dalam jumlah kecil. Konsentrasi
arsenik yang dianggap tidak berbahaya dalam air minum oleh WHO adalah
kurang dari 10 ppb (part per billion). Selain karena arsenik
menjadi bahan pestisida yang dipakai untuk menyemprot sayur dan buah,
arsenik juga berpotensi mencemari perairan. Hal ini pernah menjadi
masalah serius di Cina dan Bangladesh, dan sekitarnya pada tahun 2005.
Arsenik yang ditemukan di air adalah arsenik bentuk arsenat V (HAsO42-) dan arsenit III (H3AsO3).
Di alam bebas arsenat dan arsenit dapat mengalami reaksi redoks bolak
balik. Konsentrasi yang ditemukan dapat mencapai 200-4400 ppb, atau
0.2-4.4 ppm (part per million).
Arsenik sebagai racun
Bentuk arsenik yang terkenal adalah As2O3,
alias arsen trioksida atau warangan. Warangan ini bentuknya berupa
bubuk berwarna putih yang larut dalam air. Bentuk lainnya adalah bubuk
kuning As2S3 dan bubuk merah realgar As4S4.
Keduanya sempat populer sebagai bahan cat, namun karena toksik akhirnya
mereka tidak dipakai lagi. Adapun bentuk gasnya, yang juga beracun;
adalah arsin (As2H3).
Mengapa arsenik beracun? Arsenik
mampu menghambat produksi ATP, sumber energi bagi sel-sel hidup, melalui
berbagai mekanisme. Di siklus Krebs arsenik menghambat enzim piruvat
dehidrogenase, sehingga sintesis ATP menjadi berkurang dan malah
meningkatkan produksi hidrogen peroksida. Hidrogen peroksida ini
merupakan oksidator yang sangat reaktif terhadap sel hidup, maka justru
sel hidup itulah yang diserang. Sel yang diserang arsenik akan mengalami
nekrosis dan kematian dengan segera.
Keracunan arsenik dapat terjadi
dalam 2 cara, yaitu akut dan kronik. Akut berarti arsenik diberikan
dalam satu dosis tunggal yang sangat besar dan langsung mematikan. Dosis
ini kira-kira sebesar 120-200 mg pada orang dewasa atau 2 mg/kgBB pada
orang dengan berat badan kurang dari 60 kg. Untuk urusan peracunan,
biasanya pelaku mencampurkan arsenik dalam makanan dalam dosis beberapa
kali lipat, untuk mengantisipasi korbannya muntah-muntah akibat
keracunan akut ini. Gejala keracunan akut terdiri atas mual muntah hebat
yang disertai sakit perut. Napas penderita berbau seperti bawang putih.
Kadang ia langsung kejang-kejang dan koma. Tekanan darah korban
langsung turun dan ia tampak seperti orang dehidrasi berat.
Sedangkan cara kronik merupakan cara
yang “cocok” dilakukan oleh koki atau juru masak yang punya urusan atau
dendam pribadi dengan majikannya. Di sini si pelaku memasukkan arsenik
dalam jumlah nonletal berkali-kali dalam makanan korbannya, untuk
membuatnya sakit-sakitan. Suatu saat si korban diberi arsenik dalam
jumlah sangat besar. Penderita keracunan kronik mula-mula mengalami
gejala keracunan seperti keracunan akut, tapi lama-kelamaan datang
gejala tambahannya. Ia akan mengalami perubahan warna kulit menjadi
kelabu atau kehitaman, gangguan fungsi hati, fungsi jantung, fungsi
paru-paru, dan fungsi ginjal. Fungsi saraf tepi juga terganggu secara
simetris. Tapi yang paling jelas adalah kukunya, di mana terlihat
garis-garis horizontal bersusun-susun. Garis ini disebut Mees’ lines.
Garis ini berguna dalam penyelidikan ahli forensik karena dengan
mengukur panjang kuku dan jarak antara garis, ahli dapat menentukan
berapa lama sekali si korban diracun arsenik.
Mengatasi keracunan arsenik
Cara mengatasi keracunan arsenik
berbeda antara keracunan akut dan kronik. Untuk keracunan akut yang
belum berlangsung 4 jam, korban diberi ipekak untuk merangsangnya
muntah. Dapat juga dilakukan bilas lambung apabila ia tidak dapat minum.
Pemberian katartik atau karboaktif dapat bermanfaat. Sedangkan untuk
keracunan yang sudah berlangsung lebih lama daripada itu (termasuk juga
keracunan kronik), sebaiknya diberi antidotumnya, yaitu suntikan
intramuskuler dimerkaprol 3-5 mg/kgBB 4-6 kali sehari selama 2 hari.
Pengobatan dilanjutkan 2-3 kali sehari selama 8 hari.
Sumber: http://hnz11.wordpress.com



No comments:
Post a Comment