Comments

Wednesday, September 18, 2013

5 Fakta di balik aksi penghilangan tahu dan tempe

Posted by at 4:56 AM Read our previous post

Bukan rahasia lagi jika Indonesia dikenal sebagai salah satu negara agraris yang kaya akan sumber daya alamnya. Sayangnya, besarnya potensi kekayaan alam Indonesia tidak bisa memenuhi kebutuhan dan mensejahterakan kehidupan rakyatnya.
Bahkan, masyarakat Indonesia harus menerima kenyataan bahwa kebutuhan hidupnya, termasuk kebutuhan pangan, harus mengandalkan pasokan dari negara lain. Impor kini sudah menjadi panglima atas berbagai komoditas strategis. Salah satu kedelai.
Kedelai kembali menjadi buah bibir di negeri ini. Obrolan dan diskusi mengenai kelangkaan kedelai tidak hanya terdengar di warung makan pinggir jalan saja, pembahasannya juga sampai ke tingkat petinggi negeri dan pengambil kebijakan.
Bagaimana tidak, sejak kemarin hingga besok, masyarakat Indonesia di berbagai daerah kesulitan mendapatkan pasokan tahu dan tempe. Penyebabnya masih sama dari tahun ke tahun, harga kedelai impor melonjak tajam, perajin tahu tempe tak sanggup menanggung biaya produksi hingga akhirnya berimbas pada aksi mogok nasional penghilangan tahu dan tempe dari pasaran. Yang akhirnya dirugikan tidak hanya perajin tahu dan tempe, tapi juga masyarakat.
Menteri Perdagangan Gita Wirjawan adalah salah satu yang dinilai sebagai pihak yang paling bertanggungjawab atas kondisi ini. hari pertama aksi mogok nasional yang serentak terjadi di berbagai kota di Indonesia, akhirnya memaksa Gita untuk melobi sekaligus merayu perajin tahu tempe untuk menghentikan aksi mogok nasional dan kembali beroperasi. Sebab, pasokan kedelai masih mencukupi hingga Oktober 2013.
"Tidak ada alasan mogok hanya karena tidak ada kedelai," ujar Gita di hadapan puluhan anggota KOPTI di Kelurahan Semanan, Kecamatan Kalideres, Jakarta, Senin (9/9).
Aksi penghilangan tahu dan tempe membuat masyarakat resah. Bagaimana tidak, dua panganan tersebut sangat erat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia. Persoalan hilangnya tahu dan tempe dari peredaran memang menarik dibahas.
Setidaknya, ada beberapa fakta yang terungkap di balik hilangnya tahu dan tempe dua hari terakhir. Merdeka.com mencoba merangkum lima fakta yang muncul ke permukaan:

1. Akibat ikuti saran IMF

Harga kedelai saat ini naik terus naik tinggi yang membuat perajin tahu-tempe menjerit. Harga kedelai sempat menembus Rp 10.000 per kilogram. Harga ini dinilai tidak masuk akal karena akan menyusahkan pengusaha dalam menjual produk turunannya.
Ketua umum Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Gakoptindo) Aip Syarifudin bercerita kejayaan kedelai Indonesia pernah terjadi zaman orde baru kepemimpinan Presiden Soeharto. Saat itu kedelai masih dikuasai dan dimonopoli oleh Badan Urusan Logistik (Bulog).
Namun mulai 1998, kebijakan distribusi tunggal kedelai diubah karena pemerintah menuruti saran Dana Moneter Internasional (IMF) sebagai bagian dari paket penyehatan ekonomi nasional yang terpuruk akibat krisis ekonomi. Lembaga ini menuntut Indonesia membuka akses pada perdagangan bebas.
Sejak itulah Bulog, tidak lagi menangani kedelai dan negara membebaskan siapapun yang ingin mengimpor bahan baku tahu tempe ini. Imbasnya, pasokan tetap terjaga, namun harga lebih fluktuatif sehingga merugikan pengusaha.

2. Harga kedelai tertinggi sepanjang sejarah

Akhir-akhir ini kita kembali dikejutkan dengan meroketnya harga komoditas kedelai yang sempat menyentuh Rp 10.000 per kilogram (kg). Naiknya harga kedelai tidak lepas dari melemahnya nilai tukar Rupiah dan ulah importir nakal yang menahan pasokan hingga terjadi kelangkaan.
Melonjaknya harga kedelai ini sudah memasuki fase mengkhawatirkan. Hal itu diungkapkan Ketua Umum Asosiasi Tempe (Gakoptindo), Aip Syarifudin. Tahun ini paling tinggi sepanjang sejarah harga kedelai ya hingga mencapai kisaran Rp 8.900-9.600 per kg, ujarnya.
Meroketnya harga kedelai juga pernah terjadi di tahun 2008. Namun saat itu tidak terlalu mengkhawatirkan dan masih dapat dikendalikan. Kondisi tersebut berbeda dengan tahun ini.

3. Mogok produksi dan gulung tikar

Ratusan produsen tahu dan tempe yang tergabung dalam Gabungan Koperasi Produsen Tahu Tempe Indonesia maupun Koperasi Perajin Tempe Tahu Indonesia (Gakoptindo) mulai menyetop produksi mereka. Aksi penghilangan ini sebagai bentuk perlawanan dan kekecewaan atas ketidakmampuan pemerintah melakukan tata niaga perdagangan kedelai.
Gakoptindo menyebutkan, imbas yang terparah adalah banyak industri tahu dan tempe rumahan yang terpaksa gulung tikar alias bangkrut. Nasib karyawannya pun tak jauh berbeda. Mereka dengan terpaksa dirumahkan.

4. Ukuran tahu tempe jadi kecil

Meroketnya harga kedelai membuat perajin tahu tempe di berbagai daerah di Indonesia resah. Bagi perajin tahu tempe yang ingin menghindar dari kebangkrutan, tidak ada solusi lain selain menaikkan harga atau memodifikasi ukuran tahu dan tempe menjadi lebih kecil.
Perajin yang masih bertahan harus rela mengurangi jumlah produksinya. Dari yang semula rata-rata 2 kwintal per hari menjadi hanya 1-1,5 kwintal saja.

5. Terjadi hampir setiap tahun

Krisis kedelai tidak hanya terjadi tahun ini. Medio Juli tahun lalu, Wakil Ketua DPR Pramono Anung berniat turun ke jalan bersama para produsen tahu dan tempe nasional. Penyebabnya sama, harga kedelai meroket setinggi langit.
Krisis kedelai yang terjadi tahun lalu menyita perhatian semua pihak di negeri ini. Mogoknya produsen tahu tempe sebagai bentuk protes pada pemerintah yang tak kunjung berhasil menstabilkan harga kacang kedelai yang menjadi bahan baku utama membuat tahu dan tempe.
Krisis kedelai tidak hanya terjadi tahun lalu. Awal 2008, tingginya harga kedelai secara tidak langsung 'menghilangkan' tahu dan tempe di pasaran. Pengrajin tahu dan tempe memilih menyetop produksi lantaran beban produksi yang terlalu besar. Hampir setiap tahun selalu terjadi kelangkaan pasokan,

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
© Aris Wildan is powered by Blogger - Template designed by Stramaxon(enhanced by aris wildan) - Best SEO Template