Comments

Wednesday, September 11, 2013

8 Alasan wanita korban KDRT bertahan dalam pernikahan

Posted by at 6:59 AM Read our previous post


Selama ini kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) telah banyak terjadi pada wanita. Meski pria juga bisa mengalami KDRT, namun 95 persen kasus dilakukan oleh pria pada wanita. Walaupun begitu, banyak wanita yang menjadi korban KDRT tak mau bercerai dengan suami mereka.

Mengapa banyak wanita yang tak mau meninggalkan suami mereka meski telah mengalami siksaan dan KDRT yang bertubi-tubi? Berikut beberapa alasannya, seperti dilansir oleh Care2


1. Kurang dukungan sosial

Salah satu alasan wanita tak berani melapor dan tetap bertahan adalah dia merasa tak memiliki dukungan sosial. Pria yang melakukan kekerasan pada istri biasanya mengisolasinya dari pergaulan sehingga dia tak bisa bertemu dengan orang-orang yang bisa memberi dukungan seperti keluarga dan teman. Terkadang korban KDRT tak mengetahui isolasi ini hingga kekerasan terjadi dan mereka tak bisa menghubungi siapapun.


2. Kurang dana

Jika selama ini istri hidup bergantung dengan biaya dari suami, maka akan sulit untuk melepaskan diri dari mereka. Beberapa pria yang melakukan KDRT terkadang bahkan mengambil semua harta dari istri agar mereka tidak macam-macam dengan uang yang dimiliki. Jika korban KDRT tak bisa mendapat dukungan sosial serta tak memiliki uang, maka sulit baginya untuk lepas dari suami.


3. Kurang pengalaman kerja

Kebanyakan korban KDRT adalah wanita yang berada dalam rumah sepanjang waktu, dengan kata lain adalah ibu rumah tangga. Ini membuat mereka kurang memiliki pengalaman kerja. Ketika ingin lepas dari suami, mereka harus mencari pekerjaan sendiri. Mencari pekerjaan bisa jadi sulit ketika mereka tak terbiasa melakukannya dan tak memiliki pengalaman kerja. Terutama jika hal ini melibatkan anak-anak.


4. Hak pengasuhan anak

Pengasuhan anak bisa jadi salah satu faktor yang membuat wanita tak bisa lepas dari suami meski menjadi korban KDRT. Menyaksikan kekerasan dalam rumah memang bukan hal yang baik. Namun jika wanita tersebut tak punya sumber daya untuk membawa anak mereka pergi, bisa jadi ini satu-satunya jalan aman yang dipilih oleh wanita yang mengalami KDRT. Keselamatan anak juga seringkali menjadi alasan bagi pelaku KDRT untuk mengancam korbannya.

5. Takut sendirian

Tentu saja lebih baik sendirian daripada bertahan dalam pernikahan yang menyakitkan, baik fisik maupun mental seperti yang dialami korban KDRT. Namun ada kalanya wanita berpikir bahwa mereka tak bisa sendirian dan tak yakin jika nantinya mereka bisa bersama dengan orang lain. Ini bisa menjadi salah satu alasan wanita tetap bertahan dalam pernikahannya yang penuh kekerasan.

6. Merasa bersalah

Tak jarang pelaku KDRT menggunakan taktik 'membuat merasa bersalah' untuk membuat korban mereka menurut. Bisa saja mereka membuat alasan bahwa sang istri sendiri yang telah menyebabkan si pelaku melakukan kekerasan. Jika pemahaman ini terus-menerus dimasukkan dalam kepala sang istri, maka cepat atau lambat korban KDRT itu akan merasa bersalah. Bahkan lebih buruk, mereka bisa merasa bahwa dirinya pantas mendapatkan perlakuan kejam tersebut.

7. Tak selalu terjadi kekerasan

Beberapa pelaku KDRT tak selalu menyiksa istri mereka setiap hari. Terkadang ada minggu atau hari-hari ketika mereka bersikap sangat lembut, seolah kekerasan yang dilakukan hanya ada dalam imajinasi sang korban. Sebagai istri, yang tentu saja memiliki cinta pada suaminya, tentu wanita mudah merasa simpati dan mulai terombang-ambing dengan sikap suami. Sehingga pada akhirnya dia tak yakin ingin pergi dari pernikahan tersebut ataukah bertahan. Beberapa masih memiliki harapan bahwa sang suami bisa berubah.


8. Takut

Sebuah statistik yang cukup mengejutkan mengungkap bahwa sekitar 75 persen wanita korban KDRT terbunuh ketika mereka akan meninggalkan hubungan mereka. Jadi takut melarikan dari hubungan semacam ini adalah hal yang sangat logis dialami oleh wanita. Jika pergi dari rumah dan pelaku KDRT bisa mengakibatkan kematian, tentu saja wanita akan memilih tinggal dan bertahan.

Sangat menyedihkan bagaimana wanita yang mengalami KDRT bisa mengalami dilema yang cukup berat antara tinggal atau pergi dari hubungan tersebut. Pergi atau tinggal sebenarnya sama-sama memiliki risiko besar yang berbahaya. Akan sangat baik jika kita, sebagai orang yang bebas, terlebih dulu membantu mereka untuk keluar dari hubungan yang penuh kekerasan. Jika tak bisa melakukannya sendiri, kita bisa melaporkannya pada lembaga perlindungan wanita atau pihak berwajib.

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
© Aris Wildan is powered by Blogger - Template designed by Stramaxon(enhanced by aris wildan) - Best SEO Template